[REVIEW] Djakarta Warehouse Project 2014 Hari Kedua

Warna-warni Penutup DWP 14

 

JIEXPO Kemayoran, Jakarta

 

Dengan line-up yang tidak kalah bagusnya dengan hari pertama, DWP di hari kedua malah terlihat lebih ramai. Terbukti dari permintaan akan tiket di hari Sabtu yang begitu memblundak, rombongan pembeli tiket berkumpul begitu padat di depan gerbang masuk. Hal yang tidak terjadi 24 jam sebelumnya. Bahkan, penjaja tiket tidak resmi (calo) justru menaikkan harga tiket masuk. Hal ini mempertegas bahwa tanda-tanda volume pengunjung yang datang tidak akan turun dalam waktu singkat.

Keramaian yang terjadi bukan tanpa alasan, pasalnya di hari kedua ada Life in Color, adalah sebuah aktivitas di mana penonton disemprot dan disiram oleh cat warna-warni yang sudah disiapkan. Hasilnya, mereka keluar dari panggung dengan muka dan pakaian yang sudah berubah 180 derajat. Pakaian mereka berubah menjadi warna-warni, muka yang basah dan rambut yang agak lengket dan berkilau. Namun yang tidak berubah adalah senyum keceriaan yang sudah disematkan sejak datang hingga basah kuyup tidaklah luntur. 

Batalnya Kaskade tampil di DWP tahun ini tidak terlalu banyak berpengaruh, sebagai gantinya di panggung Life in Color (tadinya Cosmic Stage di hari Jumat) menjelma menjadi panggung utama yang sangat ramai hanya saja dengan ukuran yang lebih kecil. Aksi Matthew Koma dan Adventure Club secara berturut-turut menjawab bahwa mungkin suatu saat mereka harus diletakkan di panggung yang berukuran lebih besar.

Di panggung utama, ada grup lawas asal Inggris, Above & Beyond. Mengusung musik bergenre trance yang tidak mendominasi di festival ini, wajar apabila mereka mulai menyedot penonton untuk mendekat dan merapat ke depan panggung. Selain “menghajar” dengan beat cepat dan riuh, beberapa kali mereka menyelipkan kutipan kalimat-kalimat manis yang terpampang pada layar raksasa, seperti “Life is made of small moments like this”, atau “This is Indonesia, this is heaven” yang mengundang sing along dan reaksi positif.

Perpindahan yang kilat antar set menjadi hal dilematis bagi sebagian penonton. Mereka yang sudah menempati posisi yang nyaman lalu ingin mundur untuk rehat sejenak terpaksa menunda waktunya. Tapi justru ini yang membuat kepadatan tidak pernah kendur. 

Seperti perpindahan cepat dari trance menuju house milik Nicky Romero. Dengan cekatan dan sigap menaikkan beat lalu membantingnya di saat yang tepat, apalagi dihiasi dengan kembang api yang tak ada habisnya, Romero seakan langsung dicintai penggemarnya. Atraksi DJ yang menginspirasi banyak orang untuk memakai topeng Guy Fawkes ini layak mendapat dua jempol.

Puncak kemeriahan hari kedua DWP sedikit terpecah. Mereka yang sudah beberapa kali menonton Steve  Aoki, meninggalkan Garudha Land menuju panggung Life in Color untuk duo Kanada, DVBBS yang terkenal dengan hit “Tsunami”

Penampilan Steve Aoki di awal terlihat kurang klimaks. Namun bak mesin diesel yang lama panas, Aoki baru menunjukkan tajinya sekitar 15 menit selanjutnya. Gimmick yang nyeleneh dengan melempar kue tart ke penonton, kemudian naik perahu karet di atas kerumunan penonton dengan memasrahkan perangkat DJ-nya ke Angger Dimas dipertontonkan yang mengundang ekspresi takjub bercampur bingung. Lagu seperti “Turbulence” yang versi rekamannya dinyanyikan bersama Laidback Luke dan Lil Jon pun tidak luput dari pandangan Aoki untuk dimainkan.

Djakarta Warehouse Project versi tahun ketiga telah tersaji dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Ketepatan Ismaya Live dalam memilih tempat acara telah menelurkan kepuasan, apresiasi dan respon positif puluhan ribu pasang mata.

 

Foto oleh: Sancoyo Purnomo

 

Leonardus Rahadimas