[REVIEW] Djakarta Warehouse Project 2014 Hari Pertama

Festival yang (Mungkin) Tidak Akan Pernah Sepi

 

JIEXPO Kemayoran, Jakarta
 

Menempati sesuatu yang baru tidaklah mudah, kadang butuh adaptasi dan waktu yang harus ditempuh. Tapi sepertinya perkara tersebut tidak terlalu menjadi masalah yang rumit untuk Djakarta Warehouse Project 2014 (DWP) garapan Ismaya Live.

Bertempat di JIEXPO Kemayoran, pihak penyelenggara menyulap tempat yang lazimnya dipakai untuk eksebisi itu menjadi sebuah arena hura-hura sarat keceriaan. Beberapa spot didaulat menjadi area F&B, tenant dan sponsor acara.

DWP tahun ini memiliki 3 panggung yang tersebar di area yang luas di dalam JIEXPO. 1 panggung utama yang berikutnya disebut Garudha Land, dua sisanya yang bernama Cosmic Station dan Mixmag Asia Stage yang letaknya di sayap kanan dan kiri Garudha Land. Posisi yang strategis dan tidak terlalu jauh, mempermudah akses penonton yang ingin berpindah-pindah panggung.

Di hari pertama, petualangan dimulai dengan suguhan dari Jophy dan Avve yang bermain bersebrangan di panggung Cosmic Station dan Mixmag Asia Stage. Sedangkan di panggung utama ada Aay yang menghibur di depan penonton yang relative belum padat.

DWP14-9367.JPG

Kepadatan terjadi ketika Midnight Quickie mulai tampil lepas di Garudha Land. Tampak gerombolan penonton merangsek masuk untuk mendapat tempat yang pas. Beberapa di antaranya mungkin bersiap-siap untuk Showtek yang dijadwalkan main menjelang malam.

Duo Belanda, Showtek “memperparah” penuhnya daerah depan panggung. Selain sisi depan, sisi kanan dan kiri juga sangat ramai. Selain lagu-lagu remix, Sjoerd dan Wouter juga memainkan lagu “Bad” buah karyanya bersama David Guetta.

DWP14-9129.JPG

Seakan tidak diperbolehkan untuk meninggalkan area panggung, selesai Showtek, selang 10 menit giliran Martin Garrix naik pentas. Di usianya yang masih 18 tahun, Garrix sudah menjelma menjadi seorang DJ handal. Pria yang kini duduk di posisi ke-4 Top 100 versi majalah DJ Magazine tampil dengan ketukan cepat namun tetap asyik untuk memandu ribuan orang menggoyangkan badan.

Perpindahan antar set yang cenderung singkat memang memiliki tujuan khusus. Salah satunya mungkin agar mood dan antusiasme penonton tetap terjaga sehingga tidak cepat turun atau bahkan lebih buruknya lagi, hilang. Mengantisipasi itu, Ismaya Live “menghajar” dengan eks-member grup asal Swedia, Swedish House Mafia, Steve Angello yang berhasil menunaikan tugas mulia. Segala jenis beat sulit berhasil ditaklukan. Mengusung aliran tech house, penonton yang tidak kenal lelah menerima tantangan nada-nada milik Angello.

DWP14-9377.JPG

Selesai Angello merapikan alat, headliner di hari pertama, Skrillex, naik pentas. Dibuka dengan tulisan “My Name is Skrillex” berulang-ulang di layar raksasa sambil diiringi lantunan ketukan yang santai. Skrillex seperti membuat pemanasan kecil di malam yang mulai terasa dingin. Dalam sekejap para penonton sudah berjoget ditemani tempo dubstep yang rumit dan alur yang acak. Mereka pun semakin menjadi ketika intro “Bangarang” dengan animasi trippy.

Penampilan Skrillex yang atraktif ditambah pembawaannya yang ramah kepada penonton tadi malam hingga subuh membuktikan bahwa dirinya sudah nyaman di dunia ini dan tidak ada indikasi untuk kembali memelihara rambut rebonding dengan eyeliner di bawah mata.
 

Foto oleh: Sancoyo Purnomo

 

Leonardus Rahadimas