[REVIEW] Java Sounds Fair 2014

Cerita 3 Malam Festival Baru

Jakarta Convention Center, Jakarta

Walaupun bertitel sebagai festival anyar garapan Java Festival Production, Java Sounds Fair yang terkesan sebagai produk gabungan festival terdahulu Java Rockin’land dan Java Soulnation digelar dengan meriah. Meski banyak gabungan dari artis-artis dari berbagai macam jenis aliran, toh debut festival ini tersaji manis.

Kalau Anda mengikuti perkembangan Java Jazz Festival dari awal diciptakan di Jakarta Convention Center, maka Java Sounds Fair ini tidak jauh berbeda. Dengan tata letak yang nyaris mirip di mana tiap hall diletakan sebagai stage dan Plenary Hall sebagai panggung utama, dan bahkan letak food and beverage mengingatkan momen-momen awal Java Jazz Festival. Java Sounds Fair seperti ingin mengikuti kesuksesan festival sang kakak.

Dibagi menjadi 9 panggung: Plenary Hall, Cendrawasih 1 & 2, Cendrawasih 3, Assembly 1, 2 dan 3, Lobby, Merak dan Kasuari, festival ini berlangsung 3 hari mulai dari hari Jumat (24/10), Sabtu (25/10) dan Minggu (26/10) berisikan puluhan musisi lokal dan mancanegara.

Di hari pertama grup pendatang baru Elephant Kind—yang juga pertama kali bermain di kelas festival—membuka Java Sounds Fair. Berisikan Bam Mastro pada vokal, Dewa Pratama pada gitar, John Paul Patton pembetot bas dan Bayu Adisapoetra penggebuk drum membawakan lagu-lagu yang masih berada di album dengan format EP-nya seperti “Be Somebody”, “Oh Well” dan “Holy Sh*t”. Bersamaan dengan mereka, RAN di panggung utama dan Rock n Roll Mafia di tempat lainnya saling menghibur penggemarnya.

Yang menarik adalah ketika antrean Sophie Ellis-Bextor sangat membludak. Dengan jarak waktu setengah jam sebelumsound check, penonton yang tidak perlu membayar tiket tambahan sudah duduk rapi menunggu pintu dibuka. Dan tepat pintu dibuka pihak panitia, dalam hitungan detik puluhan orang sudah berpindah tempat di depan barikade panggung.

IMG_9035 copy.jpg

 

Memakai dress merah dengan aksen warna-warni di tengah, penyanyi 35 tahun asal Inggris ini membawakan banyak lagu dari album baru seperti “Birth of an Empire”, “Young Blood”, “Love is a Camera”. Sophie menyebut bahwa ‘Wanderlust’ [album terbarunya] bercerita mengenai seseorang yang tinggal di sebuah rumah di atas bukit yang sunyi dan gelap dan tak lupa Ia mengungkapkan kegembiraannya bisa kembali lagi ke Jakarta setelah 3 tahun. Sophie sempat keluar untuk berganti kostum berwarna hijau dan menutup set-nya dengan “Murder on the Dancefloor” yang diambil dari album debutnya.

Turun satu kasta dari panggung utama, secara berturut-turut penonton dihibur oleh penampilan band ska asal Jepang, Tokyo Ska Paradise dan Asian Dub Foundation yang mengusung aliran electronic hip-hop.

 

Tokyo Ska Paradise secara mengejutkan membuat panggung Cendrawasih 1 & 2 tampak sesak hingga pintu masuk sehingga alur penonton yang ingin menonton setelah Sophie Ellis-Bextor sedikit terhambat dan beberapa di antaranya hanya bisa menyaksikan dari pintu masuk saja. Penonton yang memadati hall sangat antusias dengan aksi Tokyo Ska Paradise. Musiknya bak umpan matang yang disambar penggemarnya dengan berjoget dan bergerak ke sana kemari, seperti tak kehabisan enerji, setiap beat ska yang khas langsung dihujani dengan gerakan-gerakan yang dahsyat.

Sempat berduet dengan Fade 2 Black, Tokyo Ska Paradise membawakan tembang-tembang seperti “Down Beat Stomp”, “Call from Rio” dan ditutup dengan “Ska Me Crazy”.

Di saat yang bersamaan artis pendatang baru Neonomora menjajal Assembly 1. Kalau beberapa waktu kemarin Ia hanya bermodalkan single dari EP-nya, kali ini Neonomora sekaligus merilis album terbarunya yang berjudul ‘Seeds’ dengan tambahan beberapa lagu baru seperti “Seeds” dan “The Man” yang keduanya tidak terdapat dalam mini album.

Kembali ke primary stage, musisi yang sedang naik daun dengan lagu “Rude” yang akhir-akhir ini akrab di telinga karena frekuensi diputar di radio sangat sering naik pentas. Magic! yang digawangi Nasri (vokal), Mark Pellizzer (gitar+vokal latar), Ben Spivak (bas+vokal latar) dan Alex Tanas (drum+vokal latar) ditempatkan sebagai artis dengan label special show oleh penyelenggara untuk unjuk aksi. Kendati belum ada lagu lain yang menonjol dari Magic! penonton yang datang sempat mengular ketika mengantre. Tampaknya memang mereka menunggu lagu yang sempat menggegerkan dunia maya ketika dikonversi menjadi sebuah meme.

Hari pertama ditutup oleh Matajiwa dan Barasuara. Walau terlihat cukup ramai, hari kedua diprediksi akan didominasi oleh abg-abg putri yang memuja ketampanan Cody Simpson.

**

Ramalan akan hari kedua lebih didominasi oleh cewek-cewek betul-betul terjadi, dengan gaya yang nyaris serupa lengkap dengan sign yang siap dikibarkan di Plenary Hall, mereka terlihat bagai pahlawan yang siap berkorban di medan perang.

Dimulai lebih awal, Pandai Besi yang diletakkan di panggung Merak membuka gong Java Sounds Fair hari kedua, grup kolektif Efek Rumah Kaca ditambah beberapa musisi yang ikut andil membantu mereka ketika tampil langsung ini membawakan  lagu “Jangan Bakar Buku”, “Laki-laki Pemalu”, “Insomnia” dan “Desember”. Suasana yang santai di tempat Pandai Besi main tercipta dengan sendirinya. Penonton duduk dalam alunan musik-musik indah versi beda Efek Rumah Kaca.

Di panggung lain setelahnya ada Maliq & D’Essentials yang masih giat dengan promo album teranyarnya ‘Musik Pop’. Di tengah-tengah membawakan lagu-lagu baru di antaranya “Terlalu”, “Himalaya” yang merupakan single kedua, Angga dan Indah sempat membagikan merchandise kepada penonton yang dominan kaum hawa. “Masa ada cowok pakai kaos biru muda? Mungkin dia bukan cowok,” canda Angga ketika membagikan kaos terbaru bertuliskan nama band-nya sendiri. Akhirnya kaos tersebut jatuh kepada penggemar yang rela datang dari luar kota.

Lagi-lagi antrean panjang terjadi di pelataran Plenary Hall, namun tentu saja cewek remaja ini tidak sedang menunggu Ipang, melainkan Cody Simpson yang diletakkan setelah personel BIP ini. “Dari sejak dulu gue punya banyak sekali teman, gue bersahabat dengan siapa saja. Tapi, mana yang kalian pilih, sahabat besar atau kecil?” sapa Ipang sebelum bernyanyi “Sahabat Kecil”. Tak terkecuali lagu yang menjadi himne minuman bersoda “Buka Semangat Baru” berkumandang sesudahnya.

Setelah itu penonton seperti terbelah menjadi dua bagian: yang pertama ialah mereka-mereka yang ingin menonton Cody Simpson, dan sisanya ingin turut mengambil bagian menjadi saksi mata perjalanan 12 tahun The Brandals/BRNDLS sebelum memutuskan untuk vakum.

Membawakan 12 lagu seperti “Start Bleeding”, “Janji 1000 Hari”, “Dryland”, The Brandals tampil “galak” seperti biasanya, di tengah-tengah main Eka, sang vokalis memberi wejangan. “Album The Velvet Underground & Nico pertama kali dimainin cuma ada 12 orang yang nonton, tapi asal lo tau, 12 orang itu nge-band semua!” ujarnya semangat. Menyambung wejangannya, Eka sendiri juga sempat bercerita bahwa ketika pertama kali dia main 12 tahun lalu di sebuah café di Menteng, penonton yang datang bisa dihitung dengan jari, tetapi gig terakhir mereka kemarin membuktikan penonton mereka berkembang berkali-kali lipat.

Sebelum menghajar penonton dengan “Awas Polizei!” menjelang menyelesaikan konser, pada lagu “Abrasi” mereka berkolaborasi dengan Iwa K.

Mendekati akhir hari kedua, Cibo Matto, sebuah band Shibuya-kei, trip-hop asal Amerika Serikat mendapat giliran untuk pentas. Beberapa kali Miho Hatori (vokal) “memergoki” fans-nya ikut bernyanyi lagu-lagu dari album ‘Hotel Valentine’. “Bagaimana kalian bisa tahu album itu? Apa album itu sudah terkenal di sini?” ujarnya kaget. Nomor-nomor seperti “Sci-Fi Wasabi” dan “Emerald Tuesday” tak luput untuk dibawakan secara langsung.

 **

Hari terakhir Java Sounds Fair semakin berlangsung meriah, setelah sehari sebelumnya absen artis special show—walau tetap ramai dan penuh, kali ini kembali dengan The Jacksons yang beranggotakan Jackie, Tito, Marlon dan Jermaine Jackson.

Apabila ditilik dari usia mereka, angka lebih dari setengah abad sudah mereka capai, namun kelincahan mereka tidak mencerminkan realita. Mereka justru berjoget hebat di atas panggung. Lagu-lagu yang bisa dibilang abadi dimakan zaman dimainkan “I’ll Be There”, “ABC” dan “I Want You Back”. Di bawah komando Tito yang tampil beda sendiri dengan setelan atasan dan gitar yang senada berwarna merah, grup yang yang terbentuk di tahun 1964 justru mengajak untuk berdansa.

Di tengah kewajibannya, Jackie memberikan “hadiah” kecil kepada penonton untuk mengenang mendiang sang adik Michael dengan lagu “Gone Too Soon”, dan setelah kurang lebih satu jam anak-anak dari Joe Jackson menutup penampilannya dengan “Shake Your Body”.

Untuk edisi pertama Java Sounds Fair, semuanya sudah berlangsung dengan apik dan rapi. Seluruh yang datang bisa memilih jenis musik apa yang ingin mereka tonton tanpa harus terhalang oleh tembok bernama genre musik, walau ada beberapa yang harus dibenahi seperti banyaknya orang yang merokok di ruang ber AC dan mengotori area konser dengan sampah. Di luar itu semoga festival ini selalu menjaga kualitas dan eksistensinya di masa yang akan datang. (LR)


foto oleh: Melina Anggraini

Leonardus Rahadimas